Jejak Kaki Harimau Bertebaran di Savana ORO-ORO OMBO Semeru - Puncak Petualang | Rental Alat Outdoor Hiking Sidoarjo Surabaya | Rental Alat Camping | Tenda Dome

Breaking

  • Kami menerima sewa untuk kegiatan sekolah / grup / kampus / instansi, Dll | Buka Jam 08.00 - 21.00 WIB

Jejak Kaki Harimau Bertebaran di Savana ORO-ORO OMBO Semeru



Petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru menemukan jejak harimau bertebaran di kawasan Savana Oro-oro Ombo. Kepala Seksi Pengelolaan Wilayah III Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Budi Mulyanto mengatakan jejak tersebut terlihat saat petugas melakukan survei jalur pendakian Gunung Semeru belum lama ini.

Survei dilakukan sebelum petugas membuka secara resmi jalur pendakian yang sempat ditutup. "Ada jejak binatang mamalia besar bertebaran di Oro-oro Ombo. Belum tahu itu jejak harimau tutul atau harimau besar," kata Budi ketika dihubungi, Kamis, 21 April 2016.

Penemuan jejak harimau menandakan bahwa satwa liar Taman Nasional leluasa bergerak di jalur pendakian. Ketika pendakian ditutup untuk pemulihan ekosistem, kata dia, satwa liar ini seolah bebas bepergian kemana-mana tanpa harus berpapasan dengan manusia. "Jejaknya masih baru," katanya.

Sebelumnya, pada musim pendakian tahun lalu sekelompok pendaki juga sempat menjumpai harimau di jalur pendakian. Kejadian ini sempat menggegerkan pendakian Semeru. Para pendaki bersembunyi karena takut diserang.

Budi menuturkan petugas juga menjumpai jalur pendakian yang tertimbun longsor serta terhalang pohon tumbang. Namun secara umum jalur tersebut sudah layak untuk dilewati para pendaki. "Jalur yang terkena longsor sudah kami benahi dan pohon tumbang sebagian sudah dibersihkan," katanya.

Terhadap pohon tumbang yang merintangi jalan, petugas sengaja tidak menyingkirkan seluruhnya. Hal itu dilakukan agar tantangan para pendaki kian bertambah. Keberadaan pohon yang merintangi jalur dinilai menjadi warna tersendiri. "Jalur pendakian dari Ranupane hingga Kalimati sudah layak dilewati," katanya.

Namun, sebelum resmi membuka jalur pendakian, petugas Taman Nasional lebih dulu berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi Mitigasi dan Bencana Geologi. "Perlu pertimbangan dari vulkanologi serta pihak-pihak terkait. Bila tidak ada aral melintang, jalur pendakian bisa dibuka awal Mei," katanya.

source : Mapala PTM / Tempo