Cara Tanggap Keadaan Darurat Saat Mendaki - Puncak Petualang | Rental Alat Outdoor Hiking Sidoarjo Surabaya | Rental Alat Camping | Tenda Dome

Breaking

  • OPEN BOOKING Bulan Oktober 2018 | Kami menerima sewa untuk kegiatan sekolah / grup / kampus / instansi, Dll | Buka Jam 08.00 - 21.00 WIB

Cara Tanggap Keadaan Darurat Saat Mendaki

Suatu usaha mempertahankan hidup sangat diperlukan dalam keadaan darurat. Yang dimaksud keadaan darurat adalah suatu keadaan yang berbeda dengan situasi dan kondisi normal seperti yang biasa dialami dengan sarana dan prasarana yang sangat terbatas, cuaca yang buruk (hujan, panas, atau dingin), dan terbatasnya sumber makanan dan minuman, serta ancaman lain yang dapat membahayakan jiwa manusia.

Keadaan darurat tersebut dapat dialami misalnya ketika:


  1. Terjadi bencana alam misalnya banjir, longsor, kebakaran. 
  2. Suasana perang.
  3. Mengikuti kegiatan di alam terbuka seperti jelajah hutan, lintas alam, mendaki gunung, selusur gua atau pantai dan lainnya.


Keadaan-keadaan tersebut akan membuat seseorang mengalami hal-hal yang dapat mengancam kelangsungan hidupnya, misalnya :


  • Ketakutan.
  • Sakit.
  • Kedinginan atau kepanasan.
  • Haus dan lapar.
  • Kelelahan atau letih.
  • Rasa bosan dan putus asa (apalagi jika sendirian).


Bagian survival yang paling penting adalah untuk mengatasi ancaman-ancaman di atas. Bentuk-bentuk ancaman juga berbeda tergantung dari kondisi alam dan suasana yang terjadi. Survival yang dilakukan oleh pecinta alam ketika melakukan kegiatan di alam terbuka lain dengan usaha survival yang dilakukan Prajurit TNI ketika memburu GAM di Aceh. Ketika pecinta alam melakukan survival dia dalam kondisi yang sudah siap dan sadar.

Selain itu pecinta alam juga melakukan kegiatan yang disenanginya sehingga secara psikologis, karena melakukan kegiatan dalam kondisi senang maka peluang hidupnya lebih tinggi. Untuk orang yang melakukan kegiatan survival karena terpaksa, misalnya seorang prajurit TNI yang dikepung pemberontak, sangat lain, karena faktor utama yang diperlukan adalah bagaimana bersembunyi. Selain itu secara psikologis dia terancam oleh orang lain dan tidak bebas bergerak.

Dalam Juklak Survival, Evasion and Recovery, Air Land Sea Application, bahwa untuk lebih memahami survival maka dibuat suatu arti dari survival seperti yang ada di foto yang disertakan dalam artikel ini.

Dengan memahami arti dari survival dan menyesuaikan kondisi dan situasi yang terjadi maka dapat dilakukan tindakan-tindakan pada waktu keadaan darurat sebagai berikut :


  1. Berhenti untuk beristirahat dan berpikirlah sebelum bertindak. Jagalah supaya tetap bertindak tenang dan kendalika rasa takut.
  2. Ketahuilah lingkungan sekitar, di manakah berada. Periksa dan rasakan apakah ada bagian tubuh ada yang perlu tindakan pertolongan. Dan ketahuilah peralatan atau benda-benda apa yang ada di sekitar yang bisa dimanfaatkan.
  3. Ketahuilah jalan keluar menuju tempat yang aman.
  4. Jika tidak mungkin untuk melanjutkan perjalanan maka buatlah tempat perlindungan.
  5. Carilah sumber air dan makanan yang dapat dimanfaatkan.
  6. Beristirahat yang cukup.
  7. Berusaha untuk mencari pertolongan, dengan membuat tanda yang kontras dengan alam untuk menarik perhatian orang, atau jika mampu lanjutkan perjalan dengan terlebih dahulu melakukan orientasi dan pengenalan medan.


Dengan usaha survival yang bijak, maka diharapkan orang dapat selamat sehingga dapat kembali ke kehidupan biasa. Akan lebih bermanfaat pula jika tindakan survival ini dapat menyelamatkan orang lain yang celaka.

PERSIAPAN SURVIVAL.

Untuk melakukan kegiatan yang memerlukan tindakan survival baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain perlu dilakukan persiapan yang sangat matang dan terencana. Persiapan yang dilakukan harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan kita lakukan. Kegiatan yang dilakukan di pantai tentu peralatan yang dibutuhkan lain dengan di hutan tropis. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan persiapan survival adalah :


  • Kondisi medan yang akan dilalui.
  • Lama waktu yang akan ditempuh.
  • Jumlah personal.
  • Perkiraan cuaca.
  • Sumber Makanan dan minuman.
  • Penyakit yang mungkin timbul.
  • Adat istiadat masyarakat asli.


PERALATAN SURVIVAL

Peralatan survival, atau dalam bahasa inggris survival kits adalah nyawa utama dalam melakukan kegiatan survival. Survival kits yang kita bawa haruslah seefisien mungkin dan mempunyai fungsional yang tinggi. Hindari membawa barang yang tidak berguna sama sekali, misalnya jika kita akan melakukan kegiatan survival di gunung tentu tidak diperlukan membawa perahu karet atau pelampung.

Faktor yang esensial dalam menggunakan perlatan survival adalah tas. Tas atau kantong yang akan digunakan membawa peralatan survival harus memenuhi syarat berikut:


  1. Tahan terhadap air.
  2. Nyaman untuk dibawa atau dikenakan di badan.
  3. Sesuai/cocok dengan jumlah dan jenis peralatan yang akan dibawa. Jangan sampai tas terlalu besar atau terlalu kecil.
  4. Tahan lama/kuat.


Diperlukan suatu pemikiran yang cermat untuk memilih barang atau perlatan yang akan dibawa dalam tindakan survival. Tetapi yang paling penting, peralatan survival yang harus tersedia adalah :


  1. Alat-alat PPPK.
  2. Tablet penjernih / penawar air.
  3. Sumber api (korek).
  4. Peluit (untuk membuat tanda / sinyal pertolongan).
  5. Bahan makanan atau peralatan untuk mencari dan mengolah makanan dari sumber alam.
  6. Alat-alat untuk tempat perlindungan, misal tenda atau ponco.


Contoh peralatan yang harus dibawa ketika melakukan kegiatan survival adalah sebagai berikut :


  1. Peralatan PPPK (obat-obatan dasar).
  2. Korek api.
  3. Kawat/sling untuk membuat jerat / perangkap hewan.
  4. Kaca.
  5. Kompas.
  6. Tali pancing.
  7. Pancing.
  8. Lilin.
  9. Lensa pembesar (lup).
  10. Tablet Oxytetracycline (untuk diare atau infeksi).
  11. Tablet penjernih/penawar air.
  12. Pisau bedah.
  13. Jarum dan benang.
  14. Kondom untuk tempat air darurat.
  15. Pisau.


Dengan menggunakan peralatan seefisien dan sebijak mungkin, diusahakan agar kegiatan survival dapat maksimal dan ancaman-ancaman yang terjadi dapat direduksi tanpa menambah angka korban jiwa.